Sudah belasan hari Pak Harto harus bergelut dengan dengan sakit yang dideritanya di rumah di RSPP(Rumah Sakit Pusat Pertamina). Berita tentang sakitnya pun hampir selalu menjadi headline dalam setiap pemberitaan media. Belum lagi dengan embel-embel berita terpanas, berita terbaru, live report, breaking news dsb, televisi swasta kita seperti berlomba-lomba untuk menghadirkan berita terbaru, terpanas seputar Pak Harto. Belum lagi media cetak harian yang berlomba menjadikan berita Pak Harto menjadi tajuk utama lengkap dengan ulasan dan prediksi masa depan beliau.
Media-media kita berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam memberitakan hal-hal yang menurut saya sangat absurd. Sangat tidak masuk diakal untuk sebuah pemberitaan mengenai orang yang sakit. Orang yang seharusnya memperoleh ketenangan saat melakukan penyembuhan justru mengalami perlakuan yang notabene sangat (maaf) “tidak manusiawi”.
Kenapa saya berpendapat demikian? Absurditas tyang pertama menurut saya adalah pemberitaan seputar sakitnya Pak Harto yang seharusnya menjadi sebuah rahasia yang hanya boleh diketahui oleh pasien dan keluarganya malah diumbar kepada publik. Pak Harto memang milik publik, hanya saja ya jangan ngana ya ngana ning aja ngana. Tidak sepatutnya tubuh tua dan kondisi yang mengenaskan itu berulang kali ditayangkan dengan berbagai deskripsi yang kadang-kadang sangat menyakitkan bagi anggota keluarga pasien dan mugkin juga orang-orang yang pernah disakiti beliau tetapi masih punya rasa kemanusiaan.
Jika kita lihat kebelakang, media-media dinegeri yang katanya punya toleransi dan menjunjung kemanusiaan ini, ternyata sangat banyak yang suka menayangkan wajah-wajah yang mengenaskan, tentang kondisi korban kekerasan, korban terorisme dll. Dengan alasan kebebasan pers, penyampaian kebenaran, banyak yang menayangkan sesuatu tanpa mempertimbangkan rasa keadilan dan kemanusiaan. Mungkin kita perlu lebih lama untuk belajar lagi tentang kebebasan pers ini.
Di Inggris pada saat terjadi pengeboman terhadap subway di pusat kota London, tak ada satupun media yang menayangkan wajah-wajah maupun kondisi dari korban. Begitu pula saat terjadi peledakan terhadap bus di London tak ada satupun media yang menayangkan kondisi korban. Bahkan demi alasan kemanusiaan, di Amerika Serikat saat mantan Presiden Amerika Ronald Reagen mengalami kritis akibat penyakit Parkinson yang dideritanya, tak ada satupun media dinegeri itu yang menayangkan kondisi fisik dan wajah Reagen.
Namun tidak dengan disini. Media-media di negeri ini suka sekali mengungkap kondisi kritis pak Harto. Berapa kali kita lihat wajah beliau yang sedang koma menjadi santapan kamera media-media kita. Bisa jadi ungkapan bad news is good news boleh-boleh saja dalam era persaingan.
Hal ini ditambahi dengan banyaknya berita seputar sakitnya Pak Harto yang diungkap oleh tim dokter. Hampir tiap hari mereka mengungkapkan kondisi beliau secar mendetil didepan media. Padahal kita tahu, bagian besar dari audiens media-media ini adalah orang awam yang tidak tahu istilah-istilah kedokteran. Jadi sampaikan saja yang umum yang kira-kira bisa dipahami penonton.
Absurditas kedua yang adalah banyaknya kalangan yang bicara tentang jasa-jasa Pak Harto. Kita semua tentu mafhum bahwa beliau banyak berjasa untuk negeri ini. Tidak berjasa bagaimana? Beliau ikut mengangkat senjata saat jaman perjuangan melawan penjajah Jepang dan Belanda. Setelah berakhirnya G30 S/PKI beliau menjadi presiden negeri ini selama 32 tahun. Rasanya sangat ganjil jika harus meyakinkan lagi jasa-jasa yang beliau. Tanda jasa beliau dari dalam negeri entah berapa jumlahnya. Belumlagi tanda jasa yang diterima dari negara-negara sahabat. Kenapa harus meyakinkan lagi bahwa beliau berjasa.
Ketiga, banyak yang memohonkan maaf atas nama Pak Harto. Sebagai manusia biasa tentu saja beliau mempunya kesalahan. Mereka bicara seolah-olah mewakili Pak Haro. Pak Harto bukan mereka yang harus menanggung tuduhan korupsi seperti yang diamanatkan oleh Tap MPR XI/MPR/1998. Tap yang keluar pada saat situasi politik negeri ini dalam keadaan sangat panas. Saat semua mata tertuju pada mantan presiden dan keluarganya yang dianggap memliki harta yang seharusnya menjadi hak rakyat.
Bahkan tak jarang banyak yang bertindak seolah-olah menjadi Tuhan. Mereka seolah menghakimi dengan mengatakan,”Pak Harto bersalah maka maafkan dosa-dosanya”. Tentu hal ini sangat ganjil. Kita bertindak seolah-olah kita adalah Tuhan yang tahu seberapa kecil dan besar dosa Pak Harto. Serahkan saja tentang dosa ini pada Tuhan saja.
Atau tanya saja pembantu rumah anda,”Apakah Pak Harto berdosa?” Maka akan berapa banyak yang menjawab tidak tahu. Atau tanya kepada petani-petani di Gunung Kidul, penjual mi ayam didekat rumah anda, nelayan Tidore. Akan anda dapati jawaban yang hampir sama. Bagi mereka lebih banyak urusan yang mesti dikerjakan daripada harus menghitung seberapa banyak dosa orang lain. Tapi jangan tanya orang-orang yang menjadi korban Pak Harto tentu jawabanya akan lain.
Keempat. Saat seluruh anggota keluarga sedang mencurahkan perhatian kepada sakit Pak Harto, tak sedikit media yang memberitakan rencana pemakaman beliau. Jika saja salah satu anggota keluarga kita yang diperlakukan seperti ini apakah bisa kita bayangkan betapa sedihnya? Pak Harto memang sempat kritis tetapi apakah pantas kita membicarakan rencana-rencana pemakaman bahkan dengan pemberitaan yang sangat mendetail mengenai arah jalan yang akan dilalui, siapa yang akan melepas, berapa tamu yang akan hadir bahkan secara detil sampai pada tempat parkir dan berapa rambu-rambu lalu lintas yang baru dipasang terkait acara pemakaman. Naudzu billahI
Absurditas yang lain adalah sikap dan tindakan orang-orang yang katanya menjunjung demokrasi dan keadilan. Bagaimana mungkin orang-orang yang mengaku sebagai pendekar kebenaran dan keadilan ini dengan bangga meneriakkan slogan-slogan adili Soeharto didepan rumah sakit tempat sisakit sedang berjuang dengan sakitnya. Rasa keadilan, kebenaran seperti apa yang dicari? Kebanggaan apa yang didapat dengan berteriak-teriak didepan muka orang yang sedang sekarat? Tidakkah lebih baik mereka berteriak kepada koruptor-koruptor yang pura-pura di opname? Tidakkah mereka bisa menunggu setidaknya sampai Pak Harto sembuh?
Entah siapa sebenarnya yang sakit.
Apakah pak Harto yang sakit? Apakah media-media kita yang sakit atau kita yang menikmati pemberitaan media-media ini yang sakit? Atau bisa jadi kita semua adalah orang-orang sakit yang tidak tahu kalau sakit.
Masihkah kita jadi orang-orang yang menikmati absurditas berita demi memuaskan hasrat untuk menghakimi dan menikmati penderitaan orang lain?
Atau kita semua mulai keBlingeR? Kampret!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar